|  Penerimaan Calon Direksi BUMD Tuah Sekata •  Upah Minimum Kabupaten Pelalawan Tahun 2013 •  Selamat Hari Jadi Kabupaten Pelalawan ke-13 •  Hasil Seleksi Direksi BUMD Tuah Sekata •  Himbauan kepada setiap pemilik bangunan dan dunia usaha untuk melengkapi perizinan Mendirikan Bangunan sesuai ketentuan berlaku. •  Telah dibuka Pelatihan Aplikasi Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) untuk Penyedia Barang dan Jasa, daftarkan perusahaan Anda segera!!! • 

Pariwisata

GAMBARAN UMUM

Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang baru dimekarkan di wilayah Propinsi Riau. Dengan disahkan Undang-undang Nomor 53 tahun 1999, maka mulai tanggal 12 Oktober 1999 resmilah Kabupaten Pelalawan memisahkan diri dari Kabupaten Kampar

Dengan ditetapkan Pangkalan Kerinci sebagai ibukota Kabupaten, Pelalawan mulai berpacu mengejar segala bentuk ketertinggalan dan keterbelakangan yang selama ini menyelimuti segala sektor kehidupan.

Kabupaten Pelalawan berawal dari nama sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Pelalawan yang pusat kerajaannya berada di pinggiran sungai Kampar.. Kerajaan ini adalah pewaris dari Kerajaan Kampar di

Pekan Tua. Kerajaan Pelalawan berdiri tahun 1725 dan mulai terkenal semasa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahmman yang bergelar assyaidis Syarif Abdurrahman Fachrudin yang memerintah ditahun 1811 – 1822. sedangkan Raja terakhir Kerajaan Pelalawan adalah Tengku Said Haroen dengan gelar Assyaidis Syarif Haroen bin Hasyim Fachrudin Tengku Besar Kerajaan Pelalawan yang memerintah pada tahun 1940 – 1945. Pada saat kemerdekaan Republik Indonesia Tengku Said Haroen bersama orang besar kerajaan Pelalawan menyampaikan Pernyataan Taat Setia dan Bersatu dalam Negara Republik Indonesia yaitu pada tanggal 20 Oktober 1945. Beliau mangkat pada tanggal 21 November tahun 1959 bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil Awal 1370 H di Istananya di Pelalawan. Atas Jasa-jasanya kepada bangsa dan negaranya, melalui musyawarah Orang-orang Besar Kerajaan beliau diberi gelar “MARHUM SETIA NEGARA”.

Dengan luas wilayahnya lebih kurang 12.490,42 Km² pada saat ini telah berkembang menjadi 12 Kecamatan, yakni : Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan Langgam, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kecamatan Pelalawan’ Kecamatan Bunut, Kecamatan Ukui, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kecamatan Kerumutan, Kecamatan Teluk Meranti, Kecamatan Kuala Kampar Kecamatan Bandar Sikijang dan Kecamatan Bandar Petalangan.

Posisi yang sangat strategis yaitu berada dijalur Lintas Timur Sumatera dan berbatasan dengan Propinsi Kepulauan Riau dan Negara Tetangga merupakan modal dasar dan keunggulan bagi Kabupaten Pelalawan untuk mengembangkan Pembangunan di segala Sektor. Kabupaten ini terbentang di daratan tengah pulau Sumatera belahan Timur yang berbatasan dengan :

• Sebelah Timur dengan Kabupaten Karimun dan selat Melaka.
• Sebelah Barat dengan Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru.
• Sebelah Utara dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Bengkalis.
• Sebelah Selatan dengan Kabupaten Inderagiri Hulu dan Inderagiri Hilir.

Penduduk asli terdiri dari orang Melayu yang terbagi dalam dua wilayah adat, yaitu masyarakat Adat Melayu Pesisir dan Masyarakat Adat Melayu Petalangan, seiring dengan perkembangan daerah terjadi mobilisasi penduduk dari berbagai suku dan daerah seperti: Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Jawa dan lain-lain. Dengan jumlah penduduk pada saat ini lebih kurang 208.373,- jiwa.

Kabupaten ini dialiri sungai Kampar dengan beberapa anak sungainya memberi karakteristik tersendiri terhadap kehidupan penduduknya. Dimana sebagian penduduk asli banyak bergantung kepada kekayaan dan keragaman sumber daya perairan serta kekayaan dan keragaman hasil hutan bagi yang tinggal di daratan/pedalaman. Untuk mencapai Ibukota Kabupaten Pelalawan (Pangkalan Kerinci) dapat ditempuh melalui beberapa pintu masuk :

a. Darat :
- Melalui Kota Pekanbaru melewati jalan raya lintas timur
- Melalui Kota Jambi/Rengat (Inhu) melalui jalan raya Lintas Timur.
b. Laut/Sungai
- Melalui Penyalai di Kuala Kampar
- Melaui Tolam, Pelalawan di Kecamatan Pelalawan.
- Melalui Sungai Teratak Buluh Kabupaten Kampar
c. Udara
- Melalui Bandar Udara Sultan Syarief Haroen di Komplek PT. RAPP (Riau Andalan Pulp and Papper)

PESONA SEMULA JADI KABUPATEN PELALAWAN

WISATA ALAM (Petualangan Menyusuri Sungai Kampar)
Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang dilalui Sungai Kampar. Sungai yang panjangnya 413,5 Km dengan kedalaman rata-rata 7,7 meter ini berhulu di Propinsi Sumatera Barat dan Bermuara di Selat Melaka.

Sungai Kampar dengan anak-anak sungainya yang kaya akan sumber daya hayati, juga banyak terdapat danau dan tasik yang indah serta memberikan kesan tersendiri bagi wisatawan-wisatawan yang hobi berpetualang. Sungai ini merentang dan membelah beberapa wilayah Kecamatan diantaranya :

LANGGAM.
Bagi Wisatawan yang memulai kunjungan kedesa Langgam dapat memasuki wilayah ini dari tiga pintu masuk, yaitu dari :

- Pekanbaru memakai kendaraan darat langsung ke Langgam,
- Kabupaten Kuantan Singgi juga melalui jalan darat
- kota Pangkalan Kerinci melalui jalur darat dan sungai.

Sebagai kota tua peninggalan Kerajaan Tambak yang terkenal dengan kolam tujuhnya, wisatawan juga dapat menikmati keindahan danaunya.

DANAU TAJWID
Tidak jauh dari Desa Langgam lebih kurang 10 menit memudiki aliran sungai Kampar terdapat sebuah danau yaitu Danau Tajwid.

Suasana danau yang tenang dengan rumah rakit kelompok nelayan yang mengolah hasil tangkapan menjadi ciri khas danau ini.

Danau ini merupakan asset desa yang setiap tahunnya dilelang pada kelompok nelayan, dimana dana yang diperoleh dari lelang tersebut akan digunakan untuk pembangunan desa. Dan bagi wisatawan dapat memancing didanau ini setelah mendapat izin dari pucuk adat atau kelompok nelayan yang memenangkan lelang.

HUTAN RAWA SUNGAI MOKOH
Suatu panorama hutan rawa dihamparan rawa disepanjang sungai mokoh dengan rumah-rumah panggung sederhana yang memberikan kesan sejuk dan alami. Bagi wisatawan yang mempunyai jiwa petualang dapat menyusuri rawa ini dengan bersampan. sambil memancing ikan dan udang galah yang banyak terdapat di sini..

PANGKALAN KERINCI.
Sebagai Ibukota Kabupaten Pelalawan, Pusat Pemerintahan, Industri dan Perdagangan, Pangkalan Kerinci menebar pesona tersendiri bagi para pendatang. Dengan letaknya yang strategis dan terdapatnya Pabrik kertas terbesar di Asia Tenggara membuat kota ini bagaikan gula yang dikerubungi semut.

Bagi yang ingin memanjakan selera dengan masakan-masakan khas daerah Pelalawan yang terkenal lezat dan alami dapat menikmatinya di Kota Pangkalan Kerinci dengan menu khas sempedas Patin (Ikan Patin Kunyit/Ikan Patin Kualo), Udang Galah dan Ikan Salai.

Sebagai Ibukota Kabupaten di Kota Pangkalan Kerinci juga terdapat fasilitas penunjang lainnya, seperti Taman Pemandian/ Kolam Renang, Fitnes Center, dan lain-lain.

Disini juga terdapat Danau yang masih perawan, indah dan menawan yaitu :
DANAU TANJUNG PUTUS. Memasuki Kota Pangkalan Kerinci dari Langgam melalui Sungai Kampar kita akan disajikan dengan panorama alam yang mempesona dan menakjubkan denga melewati hamparan kebun dan juga perkampungan penduduk tempatan di sepanjang aliran sungai dengan beragam kegiatannya. Wisatawan kembali dapat menikmati keheningan Danau Tanjung Putus Atau melihat kehidupan/perkampungan masyarakat di kuala terusan (pemukiman lama) serta beristirahat di pulau yang berada di tengah Sungai Kampar yang dikenal dengan Pulau Senang. yang hanya berjarak sekitar 5 Km dari Kota Pangkalan Kerinci.

DESA PELALAWAN
Desa Pelalawan terletak di pinggiran sungai Kampar dapat ditempuh dari ibukota Kabupaten (Kota Pangkalan Kerinci) melalui transportasi air/sungai dengan menggunakan speed boat, kapal motor juga dapat ditempuh melalui jalan darat dengan kenderaan roda 2 maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar 45 menit.

Desa Pelalawan ini dulunya merupakan pusat dari Kerajaan Pelalawan yang memerintah sejak tahun 1811 s/d 1945. Kerajaan ini berakhir dengan diproklamasikannya Republik Indonesia pada tahun 1945.

Sebagai Pusat kerajaan disini terdapat banyak objek wisata sejarah yang dapat dikunjungi, diantaranya :

• Makam Raja-raja Pelalawan
• Bangunan Istana Sayap, sebagai pusat Pemerintahan Kerajaan Pelalawan.
• Meriam Peninggalan Kerajaan Pelalawan

DESA PEKAN TUA
Menghilir sungai dari Desa Pelalawan lebih kurang 35 menit dengan menggunakan speed boat, kita akan sampai di Dusun Pekan Tua.
Dahulunya Pekan Tua merupakan sebuah kerajaan yang ditaklukkan oleh kerajaan Melaka. Kerajaan Pekan Tua ini didirikan oleh Maharaja Indra (1380) yang datang dari Tumasik (Singapura). Beliau kemudian diganti oleh putranya Maharaja Pura, kemudian berturut-turut memerintah Maharaja Wangsa, Maharaja Lela, Maharaja Syisa dan Maharaja Jaya.

Dijaman Maharaja Jaya inilah Kerajaan Pekan Tua diserang dan ditaklukkan oleh Melaka. Setelah Raja Abdullah (Melaka) ditawan oleh Portugis maka yang memerintah Pekan Tua adalah mangkubumi Tun Perkasa, kemudian digantikan oleh putranya Tun Hitam dan Tun Megat. Setelah Sultan Alauddin Riayat Syah II membangun Negeri Johor yang menjadi Raja di Pekan Tua ialah Tun Megat, kemudian diganti oleh putranya Tun Mahadewa. Setelah itu Tun Mahadewa digantikan oleh Tun Perkasa alam.

Berdasarkan beberapa sumber penulisan sejarah, maka dapat diartikan bahwa negeri Pekan Tua adalah pusat pemerintahan dari sebuah kerajaan di daerah sungai Kampar, dan kerajaan inilah yang dinamakan Kerajaan Kampar, yang berkelanjutan sehingga kemudian menjadi Kerajaan Pelalawan.
Di Dusun Pekan Tua inilah dimakamkan Sultan Mahmud Syah I. Dalam Sejarah Melaka Sultan Mahmud Syah adalah Raja Melaka yang kedelapan dan yang terakhir (1488-1511) sedangkan dalam sejarah Johor beliau merupakan Raja Johor yang pertama (1511 – 1528).

Dalam Buku “Sejarah Johor” yang ditulis oleh Haji Buyong bin Adil diterangkan bahwa setelah Melaka dikalahkan oleh Portugis pada tahun 1511, Sultan Mahmud Syah I dan putranya Sultan Ahmad Syah beserta para pengikutnya yang setia mengundurkan diri dan membuat pertahanan untuk menangkis dan menyerang Portugis. Pada bulan September tahun 1527, Sultan Mahmud beserta dengan anak dan istri serta orang-orang besar kerajaannya menetap di negeri Kampar tepatnya di Dusun Pekan Tua. Disini baginda menempati istana asal yang dipunyai oleh saudara baginda almarhum Sultan Munawar Syah, Sultan Kampar. Beliau mangkat pada tahun 1528 dan dimakamkan di Dusun Pekan Tua.

BONO
Dari Dusun Pekan Tua, kita melayari sungai Kampar ke Hilir Menuju Teluk Meranti hingga ke Kuala Kampar, akan memberikan suatu pengalaman yang tidak akan kita temui di sungai manapun di Indonesia. Selain disajikan panorama yang indah di sepanjang pinggiran sungai, pada waktu tertentu kita juga akan bertemu dan melewati “BONO”. Bagi Wisatawan yang suka akan tantangan dapat menguji nyali di sini.

Bono adalah alunan gelombang besar yang terjadi bersamaan dengan pasang naik dan pasang surut dengan ketinggian puncak gelombangnya mencapai 4 – 6 meter. Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air, yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran Air Sungai Kampar yang berbenturan di muara sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan perahu serta kapal-kapal baik besar maupun kecil.

Untuk itu jika sedang berada di sekitar daerah Bono, kemudian terdengar suara deru gelombang yang menggemuruh dari arah muara/kuala sungai, segeralah bersiap-siap mencari perlindungan ditempat yang aman yaitu dengan tetap di sungai dengan mencari daerah yang airnya dalam atau kembali ke darat dengan sekaligus membawa perahunya ke darat agar tidak digulung oleh Bono.

Menurut legenda, konon Bono di sungai Kampar adalah Bono Jantan sedangkan Bono betinanya berada di sungai Rokan. Bono di sungai Kampar dulunya berjumlah 7 (tujuh) ekor dan yang satunya ditembak oleh orang Belanda sehingga yang tinggal sekarang hanya 6 (enam) ekor. Di musim Pasang mati Bono ini pergi menuju betinanya di sungai Rokan, kemudian bercengkrama di Selat Melaka. Apabila pasang mulai membesar kembalilah mereka ke tempat masing-masing, semakin besar arus pasang semakin gembiralah mereka berpacu memudiki sungai.

Bagi masyarakat tempatan yang sudah terbiasa dengan kedatangan Bono dan bernyali besar. Kedatangan Bono disambut dengan memacukan kapal motornya meluncur ke lidah ombak di punggung Bono bagaikan pemain selancar, atraksi ini oleh penduduk tempatan disebut “BEKUDO BONO”, Karena mirip dengan atraksi seorang joki yang sedang berusaha menjinakkan kuda liar. Bono ini dapat dilihat pada setiap bulan pada saat terjadi pasang besar, namun pada akhir tahun atau pada musim Barat, Bono akan terjadi lebih besar.

TASIK SARANG BURUNG
Dari Desa Teluk Meranti Memudiki anak sungai kita akan sampai ke Tasik sarang Burung. Tasik ini merupakan tempat migrasi burung-burung endemic dari belahan benua Australia ketika musim Salju melanda benua tersebut. Hutan disekitar tasik ini ditumbuhi berbagai jenis kayu-kayuan antara lain :
- Ramin (Gonystillus Bancanus Kurz)
- Suntai (Palaqium Waisurifollum)
- Kempas (Kompassia Malaccaensis Maing)
- Meranti (Shorea Sp)
- Bintangur (Calophyllum Sp), dan lain-lain.

Disini juga terdapat satwa-satwa yang dilindungi, seperti :
- Beruang Madu (Helarctos Malayanus)
- Trenggeling (Manis Javanica)
- Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)
- Burung Enggang (Buceros Rhiniceros)
- Belibis (Dendrocybina Javanica)
- Ikan Arwana (Schleropagus Formasus)

Kawasan ini bertopografi datar dan merupakan ekosistem hutan dataran rendah dengan type ekosistem rawa gambut seluas ± 6.900 Ha.

SUAKA MARGA SATWA KERUMUTAN
Suaka Marga Satwa Kerumutan terletak di Desa Kerumutan, lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari Pangkallan Kerinci selama lebih kurang 2 jam perjalanan melalui jalan tanah berbatu. Dari Pekanbaru dapat ditempuh dari desa Pangkalan Kopan dengan waktu selama lebih kurang 4 jam.

Luas Hutan ± 93.222.20 Ha merupakan hutan perawan yang ditumbuhi aneka macam pepohonan dan hewan yang dilindungi diantaranya :
Flora :
- Meranti (Shorea Sp)
- Punak (Tetrameriota Glabra Mig)
- Perupuk (Solena Permum Javanicum)
- Nipah (Nypa Fructicons)
- Rengas (Gluta Rengas)
- Pandan (Pandanus Sp), dll
Fauna :
- Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis)
- Harimau Dahan (Neovoles Nebulosa)
- Beruang Madu ( Helarctos Malayanus)
- Enggang (Buceros Rhinoceros)
- Monyet (Mocacafa Scicularis)
- Kuntul Putih (Egretta Intermedia)
- Ikan Arwana (Slhleropoges Formasus)
- Owa (Hylobutes Moloch)
- Itik Liar ( Cairina scutulata)
Di lokasi hutan ini terdapat sungai Kerumutan yang membujur dari Barat ke Timur dan selalu banyak burung yang bermain dan mencari makan di sana.

TUGU EQUATOR DAN SUMBER AIR PANAS
Sekitar ± 56 Km dari Pangkalan Kerinci menelusuri jalan Lintas Timur, tepatnya di Dusun Tua, Kita akan menjumpai Lintasan Khatulistiwa (Equator).

Daerah lintasan Equator ini pertama kali ditemukan oleh Bangsa Belanda, pada saat itu dibuat tanda berbentuk besi melingkar merupakan gerbang yang sekaligus menghubungkan dua desa yaitu Desa (Dusun) Tua di sisi Timur jalan dan Desa Pangkalan Lesung di sisi Barat jalan. Pada saat ini besi tersebut telah diganti dengan bangunan berbentuk Tugu. Disekitar Tugu dibangun taman dan rumah yang berfungsi untuk peristirahatan/melepas lelah bagi wisatawan sambil menikmati segarnya madu lebah asli yang selalu tersedia di sana.

Tidak jauh dari Tugu Equator atau ± 7 Km ke arah Barat di Desa Pangkalan Lesung dapat ditemui sumber air panas yang belum tergarap dan terkelola secara layak. Untuk saat ini objek tersebut telah dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui jalan pengerasan (berbatu). Sumber air panas ini juga berkhasiat sebagai obat penyembuh bagi mereka yang menderita penyakit kulit.

DESA BETUNG
Desa ini berjarak ± 30 Km dari tugu Equator kearah Kota Sorek atau ± 58 Km dari Kota Pangkalan Kerinci (Ibukota Kabupaten Pelalawan) termasuk dalam wilayah Kecamatan Pangkalan Kuras. Desa Betung Merupakan Desa Wisata yang penduduk aslinya terdiri dari Masyarakat Adat Melayu Petalangan.

Di Desa Betung dapat ditemui aneka ragam Seni Budaya Asli yang masih terpelihara dengan baik oleh masyarakat setempat. Berbagai Upacara Adat Masyarakat Petalangan yang dapat dinikmati oleh wisatawan, seperti Upacara Pengobatan Tradisional yang dikenal dengan Belian, Bedewo, Nyanyian Panjang, Atraksi Silat Payung, Menumbai Madu (menyapu pohon Sialang untuk mengambil Madu). Di Desa ini juga terkenal dengan kerajinan anyam-anyaman dengan bahan baku dari rotan, pandan, bambo, kopau yang memang banyak terdapat di desa tersebut.. Selain itu di Desa Betung juga terdapat Hutan Adat yang disebut dengan Hutan Kepungan, yang juga merupakan tempat Lebah Liar untuk membuat sarang pada pohon-pohon sialang yang banyak terdapat di areal tersebut.

PENGOBATAN TRADISIONAL BELIAN
Merupakan Tradisi Masyarakat Suku Petalangan untuk mengobati penyakit, yaitu dengan memanggil makhluk halus agar masuk ke tubuh manusia sebagai perantara/ media untuk mengetahui penyebab penyakit dan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Ritual ini melibatkan seorang Bomo yang disebut dengan Kemantan, seorang bidu yang disebut dengan pebayu dan seorang penabuh gendang Belian. Sebelum ritual pengobatan dilakukan terlebih dahulu mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan yaitu membuat balai-balai berbentuk rumah-rumahan, perahu layar dan lainnya yang terbuat dari pelepas batang asam paya (Asam Gelubi), dan membuat janur dari daun Kopau serta perlengkapan ritual lainnya.

Pada awalnya Sang Bomo duduk bersila dan berselubung dengan kain panjang, ditangannya tergemgan mayang pinang, bertih serta gelang yang mengeluarkan suara bergemerincing yang terdapat dilengan tangan dan kakinya.

Pada saat gendang ditabuh, kemantan memulai ritual dengan menabur bertih dan pembancaan mantera-mantera yang didendangkan. Setelah makhluk halus yang dipanggil masuk ketubuh kemantan, iapun mulai berdiri dan menari sambil melambai-lambaikan mayang dan alat bunyi gemerincing di tangannya.

Sedangkan Pebayu bertugas menyiramkan bertih ke tubuh kemantan dan sebagai penterjemah komunikasi antara kemantan dengan si sakit Biasanya Pengobatan dilakukan setelah makhluk halus yang berada ditubuh kemantan selesai menari dan berdendang.

Ritual pengobatan belian ini dilakukan pada malam hari, yang terdiri dari Ritual Belian Biasa dan Belian Besar. Ritual Belian Biasa untuk mengobati masyarakat yang mengalami sakit, sedangkan Ritual Belian Besar dilaksanakan untuk mengobati salah satu kemantan yang sakit dengan membuat balai-balai sesuai dengan petunjuk yang diterima oleh kemantan yang dituakan pada ritual tersebut.

MENUMBAI
Menumbai adalah kegiatan mengambil madu lebah di pohon sialang, yaitu sejenis pohon yang tinggi dan merupakan tempat yang disenangi oleh lebah liar untuk bersarang.

Sebelum memanjat pohon sialang untuk mengambil madu, terlebih dahulu dipersiapkan peralatan sebagai berikut :
- Timbo (ember), untuk menampung sarang dan madu lebah.
- Tali panjang, untuk menurunkan timbo yang telah terisi madu
- Tunu/tunam (sabut kelapa dipasang diujung galah dan dibakar untuk mendapatkan bara api dan asap) sebagai alat pengusir lebah.
- Semangkat/tangga panjang, alat Bantu untuk memudahkan memanjat pohon sialang.

Kegiatan menumbai dipimpin oleh seorang yang dituakan yang disebut dengan Juragan Tuo (juru panjat). Juragan Tuo dibantu oleh beberapa juru panjat lainnya yang disebut juragan mudo yang bertugas membantu juragan tuo pada saat menyapu lebah, dan di bawah dibantu pula beberapa orang sebagai pengumpul timbo yang berisi madu yang diturunkan melalui tali ke bawah.

Upacara menumbai ini dilakukan pada malam hari di saat bulan gelap. Terdapat suatu kepercayaan bahwa di pohon sialang selalu didiami pula oleh makhluk halus dan waktu melakukan menumbai sering pula berhadapan dengan hal-hal yang ghaib, maka untuk itu pada setiap tahapan memanjat pohon selalu diirngi dengan membaca monto (mantera), dengan tahapan sebagai berikut :

Tahap I :
Dipangkal pohon sebelum memanjat didendangkan monto oleh Juragan Mudo.

Papat-papat tanah ibu
Mai papat di tana tombang
Nonap-nonap cik dayang tidou
Juragan Mudi di Pangkal Sialang.

Tang Ketutang Losong Batu
Batang Kompe dodapnyo ome
Batang sialang lindunganku
Dilupo aku takut takome.

Nempuing pait ongkau pait
Disombou an ke mato ai
Ja an ditogou juagan nak naek
Katokan anak tupai belaii

Ritual ini dilakukan dengan memusatkan pikiran menyatu dengan pohon sialang dan mulailah memanjat tangga panjang sampai ke dahan pertama yang disebut dengan Jombang.

Tahap II :
Dari dahan I (Jombang) terus ke atas yang disebut dengan Balai Tengah, maka Juragan Mudo melanjutkan pembacaan mantera, yaitu :
Mengombang kemano obung
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan jombang
Aku nak naik ke bolai tonga

Lalu juragan terus naik ke dahan yang lebih tinggi, dimana di situ terdapat sarang lebah yang dituju (yang disebut dengan balai tonga).

Tahap III :
Setelah sampaidi sarang lebah, sebelum mengambil madu, perlu dibaca mantera memuji lebah tersebut, yaitu :

Balai Tonga duo eto
Tigo balai talendak bumi
Letak bandan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini

Masak bua kombang mani
Masak sebutei di jaut ungko
Kami betomu si itam mani
Mengulang daa kemuko

Setelah itu Juragan Mudo menyapu lebah dengan asap tunam ke sekeliling sarang lebah lalu mulai lagi membaca mantera dengan maksud agar lebah pergi.

Ceocap tobang kelaman
Tobang meulang-ulang ke pintu
Menyampaikan ucap ajo Sulaiman
Menyapu bola penunggu pintu.

Jika masih ada lebah yang belum mau pergi maka dilanjutkan pembacaan mantera agar semua lebah pergi meninggalkan sarang :

Anak Buayo mudik mendudu
Mai singgah ke pelabuhan
Putih kuning bukakan baju
Kami menengok petabuhan

Setelah lebah pergi maka juragan mudo mulai menyapu sarang lebah dan dibawahnya ditampung dengan timbo dan setelah penuh diturunkan ke bawah dengan tali yang tersedia sambil mendendangkan monto sebagai berikut :

Bo anak tupai bolang
Bolang sampai jai kakinyo
Selamat ojuang menyoboang
Ojuang sarat seisinyo.

Demikian terus sampai ke sarang lainnya pula sampai selesai.
Dari satu sarang lebah di bagian yang dekat dengan dahan kayu disebut Kepala Sarang yang berisi madu, sedangkan bagian tengah disebut lambuk (perut sarang) yang berisi anak lebah, sedangkan yang terletak diujung bawah sarang disebut pula ujung lambuk (ekor sarang) yang berisi lilin lebah atau tahi lebah.

Setelah selesai dan akan turun didendangkan pula monto untuk minta izin turun :

Temasu kayu di imbo
Dibuat papan belariak
Tubonsu ja an maibo ibo
Isuk kolam naik balek
Ramo-ramo sikumbang jati
Duo ancak ketigo ancang
Ja an lamo dayangku poi
Duo bulan ketigo lah datang
Sobab :
Antu kayu ta ogu-ogu
Dahan panjang tenanti-nanti
Menanti kau datang.

Juragan mudopun turun dan kegiatan menumbaipun selesai. Hasil madu yang didapatkan dibagi-bagi untuk para pekerja, Kepala Suku dan anggota suku sesuai dengan aturan yang berlaku menurut adatnya

ATRAKSI SENI DAN BUDAYA
Sebagai bekas sebuah Kerajaan, Kabupaten Pelalawan kaya akan aktifitas Seni dan Budaya yang masih dipertahankan dan digelar pada kegiatan-kegiatan tertentu baik itu pada pemberian gelar pembesar maupun penobatan lainnya sesuai dengan yang telah diwariskan oleh Sultan-sultan terdahulu.
Berbagai aktifitas kesenian tumbuh dan tetap dilestarikan dikalangan masyarakatnya, seperti :

Seni Sastra : Nyanyian Panjang, Pantun, Bidal, Menumbai, dll
Seni Musik : Gambus ,Kompang, Gendang, Nafiri, Ketobang, Gambang, dll.
Seni Musik : Gambus ,Kompang, Gendang, Nafiri, Ketobang, Gambang, dll.
Seni Tari : Zapin, Joget, Bagendong, Belian, Badewo, Silat Payung, dll

Seni Kerajinan : Anyaman Pandan. Daun Kopau, Bambu, Pertukangan Kayu, sulaman dan lain-lain.

FASILITAS PENDUKUNG
Pada saat ini Fasilitas pendukung sudah berkembang cukup signifikan sejalan dengan peningkatan pembangunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah. Di Kota Pangkalan Kerinci (Ibukota Kabupaten Pelalawan) terdapat beberapa hotel yang siap menerima wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten ini, diantaranya :

1. HOTEL UNIGRAHA (Bintang 3) , Komplek RAPP, Pangkalan Kerinci
2. HOTEL GRAND (Bintang 2), Jl.Lintas Timur ,Pangkalan Kerinci
3. HOTEL FANBINARI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
4. HOTEL DIKARAYA PRATAMA (Melati), Jl. Lintas Timur Pangkalan Kerinci
5. HOTEL AINI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
6. HOTEL MERANTI (Melati), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
7. WISMA INTAN BERSAUDARA, Jl. Dahlia – Pangkalan Kerinci
8. WISMA DINDA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
9. HOTEL DANGAU (Melati), Jl. Lintas Timur Sorek.
10. PENGINAPAN SARDELA, Jl. Lintas Timur – Sorek, dll

Demikian juga halnya dengan Restoran/Rumah Makan siap menjamu selera wisatawan dengan berbagai menu yang membangkitkan selera, diantaranya :

1. RM. YURIKA (Restoran Khas Melayu), Jl. Akasia – Pangkalan Kerinci
2. RM. IKAN PATIN RITA (Restoran Khas Melayu), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
3. RM. MINANG RAYA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
4. RM. SEDERHANA, Jl. KM.55 ,Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
5. RM. LUBUK IDAI (Khas Ikan Bakar), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci, dll

Juga tersedia Taman Pemandian/Kolam Renang, Fitness Center, diantaranya :

1. TAMAN PEMANDIAN FANBINARI, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
2. KOLAM RENANG MUTIARA, Jl. Jambu – Pangkalan Kerinci
3. GUFRON BODY MUSCLE, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci.

GENERAL DESCRIPTION

Pelalawan Regency is one of freshly growing districts in Riau Province. It was established on October 12, 1999, by virtue of Indonesian Republic Law No. 53, year 1999. Since then, Pelalawan Regency was officially separated from Kampar Regency and was no longer part of Kampar District.

As it declared Pangkalan Kerinci to be the center of government administration, Pelalawan Regency started pursuing its dream in order not to be left behind in every sector of life and development.

The name of Pelalawan Regency it self was derived from the name of a kingdom, it was Pelalawan Kingdom which its center of government was sited along the bank of Kampar River. The kingdom was the heir of Kampar Kingdom in Pekan Tua.

Pelalawan Kingdom was established in 1726 and became well known during the period of Sultan Syed Abdurrahman who had a title of Assyaidiss Syarif Abdurrahman Fachruddin and ruled the kingdom in 1811 – 1822, while the last king of Pelalawan Kingdom was Tengku Said Haroen who had the title of Assyaidis Syarif Haroen Bin Hasyim Fachruddin Tengku Besar Kerajaan Pelalawan that ruled in 1940 – 1945.

Since the independence of Indonesia, Tengku Said Haroen together with other leaders of the Kingdom declared their loyalty and integrate to republic of Indonesia on October 20, 1995.

Tengku Said Haroen passed away on November 21st 1959 AD, coincided with Jumadil Awal, 20th 1370 H in his palace at Pelalawan. He was granted the title of “MARHUM SETIA NEGARA” for his great merit to the nation and the people of Pelalawan through a deliberation of Pelalawan prominent persons.

With the area coverage of about 12.490,42 kilometers square and developed into 12 sub districts, they are Pangkalan Kerinci, Langgam, Pangkalan Kuras, Pelalawan, Bunut, Ukui, Kerumutan Kuala Kampar, Teluk Meranti, Bandar Sikijang, and Bandar Petalangan Sub districts.

Pelalawan is located strategically in the line of Eastern Highway as well as bordered by Riau Archipelago Province and its neighboring countries. This strategic position can offers the immense chance to enhance development in every part and field.

This regency is spread out in eastern of Sumatra midland with its borders:
In the east : Regency of karimun and Malacca Straits

In the west : Regency of Kampar and Municipality of Pekanbaru
In the north : Regency of Siak and Bengkalis Regency

In the South : Regency of Indragiri Hilir and Indragiri Hulu

Most of the people living in Pelalawan are Malays, including those who live in coastal area and Petalangan Tribe as indigenous people

As the regency is growing up, migration of the population from other districts occurs, such as from West and North Sumatra, Aceh, Java, and many others that increase the number of population up to 208.373 lives.

This regency is flowed through by Kampar River and several creeks flow down into, which gives its own characteristics to the people in their daily life who rely mostly on natural resources in inland waters and forests.
To reach the capital of Pelalawan Regency (Pangkalan Kerinci), we can use many entrance gates :
a. Through land : Via Pekanbaru by eastern Highway
Via Jambi or Rengat city by Eastern Highway

b. Se/ River : Via Penyalai in Kuala Kampar
: Via Tolam in Pelalawan Subdistrict
: Via Teratak Buluh River in Kampar Regency

c. Air : Via Airport of Sultan Syarif Haroen in RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) Complex

NATURAL ENCHANTMENT
Nature Touring (The Tracking Adventure along Kampar River)
Pelalawan Regency was one of regencies flowed through by Kampar River with 413,5 Km long and the depth of about 7,7 meters, it has its upper reach at West Sumatra province then empties into Malacca Straits.

Kampar River and its creeks are rich with natural resources where we can find beautiful lakes and attractive ponds to watch and indulge our self in an impressive adventure while walking or canoeing along the river. This river spread and separated some of sub districts area, namely :

LANGGAM

For those who travel to Pelalawan and start visiting to Langgam Village can enter the area through three entrances:
- Pekanbaru by inland transport and can directly go into Langgam Village
- Kuantan Singingi Regency, also by inland transport

- Pangkalan Kerinci, through river or by inland transport

Langgam was old city as the inheritance of Tambak Kingdom and it was well known with Kolam Tujuh (The legend of seven ponds) and beautiful lakes where we can enjoy the beauty of nature and doing some interesting activities like fishing and rowing.

TAJWID LAKE
Tajwid Lake can be reached in 10 minutes by following Kampar River not far from Langgam village. The calm atmosphere and raft houses of fishermen processing their catches is among common traits of this lake.

It is actually a superior village asset and is annually leased to the group of fishermen in an auction. The funds collected from leasing the lake will be used for development of the village it self. Anyone who is planning to go fishing in this village should report and ask for permission to the chief of local customs and traditions or to the auction winner.

MOKOH RIVER SWAMP FOREST
The harmony Scenery is offered by swamp forest along Mokoh River with a simple raised platform houses gives a cool, relaxing and natural impression to someone who takes an adventures along the swamp area with small boat or canoe. This is the excellent place for fishing or catching prawns.

PANGKALAN KERINCI
Pangkalan Kerinci is the capital of Pelalawan Regency and the center of government administration as well as the center of trading and industry. It has its own fascination to the outsiders. Many people coming from other districts are mostly because of its strategic location and many promising job in a biggest paper company in Southeast Asia.

The city of Pangkalan Kerinci is always ready to serve you and pamper your appetite with tasty and natural local cuisine such as Asam Pedas Patin (Patin Kunyit Fish or PatinKualo Fish), prawn and smoked fishes.

There many supporting facilities too such as swimming pool, Fitness Center, shopping area, hotels and many others.

We can also find an attractive and captivating unexplored lake such as:

TANJUNG PUTUS LAKE
Entering Pangkalan Kerinci town from Langgam Village through Kampar River, we can be served by amazing and enchanting natural scenery. Especially when we are passing by spread out plantation and local community settlement along the river, and watching them doing their daily activities. As soon as we get to the Tanjung Putus Lake, we can feel the serenity of the lake or observe the surrounding area particularly the people living in Kuala Terusan Village. Then we can rest in Senang isle, which is situated in the center of Kampar River about 5 Km from Pangkalan Kerinci.

PELALAWAN VILLAGE
Pelalawan village is located along the bank of Kampar River, and can be reached within 45 minutes from Pangkalan Kerinci whether by water transportation, like boat and speedboat, or by inland transportation such as car, bus even motorcycles.

The village used to be the center of Pelalawan Kingdom in 1811 – 1945. The Kingdom was brought to an end because of the declaration of Indonesian independence in 1945.As the center of the kingdom, there are many interesting historical sites to visit, such as:
- Pelalawan Kings Graveyard
- The Building of Istana Sayap, as the center of Government Administration of the kingdom, and the place where Sultan ruled since 1811 until 1945.
- Big and small sizes of old Canon Weapon

PEKAN TUA VILLAGE
To get to Pekan Tua Village, we need to go downstream from Pelalawan village and will get there within 20 - 35 minutes. It used to be the kingdom that was conquered by Malacca Kingdom. Pekan Tua Kingdom was established by Maharaja Indra who came from Tumasik (Singapore). He ruled and built fortified palace as well as temple, known to be the Hyang Temple, side by side. The temple was built to commemorate the safety of his escape from Tumasik when Majapahit kingdom invaded and take over it in 1383. When he was deceased, his son, Maharaja Pura, take the place of him. After that, Maharaja Wangsa, Maharaja Lela, Maharaja Syisa, and Maharaja Jaya ruled in succession.

In the time of Maharaja Jaya, Pekan Tua was attacked and conquered by Malacca, and when King Abdullah (Malacca) was captured by Portuguese, Mangkubumi Tun Perkasa ruled Pekan Tua, afterward replaced by his sons, Tun Hitam and Tun Megat. Once Sultan Alauddin Riayat Syah II built up Johor, Tun Megat turn out to be the King of Pekan Tua, then substituted by his son, Tun Mahadewa. As soon as Tun Mahadewa passed away, Tun Perkasa Alam ruled Pekan Tua.

Based on some sources and historical literatures, a conclusion can be made that Pekan Tua was the center of government administration of a kingdom in Kampar River territories, it was called Kampar Kingdom which soon turn to be Pelalawan Kingdom

Pekan Tua is where Sultan Mahmud Syah I was buried. According to History of Malacca, Sultan Mahmud Syah was the eighth and the last king of Malacca (1488-1511), while in History of Johor; he was the first king of Johor (1511-1528).

Haji Buyong Bin Adil, as he wrote in his book “Sejarah Johor,” explained that Malacca was defeated by Portuguese in 1511. Sultan Mahmud Syah I and his son, Sultan Ahmad Syah, together with their trustworthy followers retreated and put up a defense, and then repulse and attack back Portuguese. In September 1527, Sultan Mahmud Syah with his wife and children in concert with other prominent persons of the kingdom settled in Kampar district whish is exactly in Pekan Tua. He occupied the same palace as his brother, His Majesty Almarhum Sultan Munawar Syah, Sultan Kampar, owned. He was deceased in 1528 and was buried in Pekan Tua.

BONO
Leaving Pekan Tua, as we sail along Kampar River to the lower course, heading to Teluk Meranti up to Kuala Kampar, we can discover an admirable experience of the voyage. Many wonderful scenery can be viewed all along the bank of the river, as well as we can encounter Bono in particular time whilst we take pleasure in this trip and its such a daring thing to give your guts a go.

Bono is a huge wave that occurs simultaneously with high and low tide and can reach the height of 4 –5 meters. The wave stretches out almost as wide as the river. This wave was triggered by the impacts of three flowing currents coming from Malacca Straits, South China Sea, and the current from Kampar River. They crash together in the estuary and create so massive wave rolling over and dash against deep inside the river that can sink the big and small boat

Therefore, when we are in bono area and hear a thundering sound from estuary ward, we will have to get ready to find shelter zone or come back to the bank and pull the small boat out of the river in order to avoid the crush.

In accordance with legend, Bono in Kampar River is the male one, while the female one is in Rokan River. There used to be seven tails but today there are only six tails left, the missing one was shot by Deutsche Soldiers. This Bono goes up to Rokan River to meet the female one on neap tide to talk and to be calm. When the full moon appears, it comes back to where it belongs. The more full is the moon, the happier they will be.

Those who are accustomed to the coming of Bono and have enough courage, can play and surf the wave with their boats, as local people say it as BEKODO BONO, or riding the horse’s back, it is because the activity resembles riding the horses. Bono usually emerges every month during the high tide, but the biggest one comes at the end of the years

SARANG BURUNG PONDS
If we go sailing upstream the creek, we will get to Tasik Sarang Burung. This is the pond where endemic birds from Australia Continent migrate to, during the winter. Many kinds of trees grow in the forest all over these ponds, such as:

- Ramin (Gonystillus Bancanus Kurz)
- Suntai (Palaqium Waisurifollum)
- Kempas (Kompassia Malaccaensis Maing)
- Meranti (Shorea Sp)
- Bintangur (Calophyllum Sp), and many others.

We also can find many protected wildlife living in the forest, like:
- Beruang Madu (Helarctos Malayanus)
- Trenggiling (Manis Javanica)
- Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis)
- Burung Enggang (Buceros Rhiniceros)
- Belibis (Dendrocybina Javanica)
- Ikan Arwana (Schleropoges Formasus)

Topography of this are is flat and is lowland ecosystem with turf swamp ecosystem type about 6.900 Hectares.

KERUMUTAN SANCTUARY
Kerumutan Sanctuary is positioned in Kerumutan Village. It can be reached by inland transportation from Pangkalan Kerinci for about less than 2 hours trip passing through rocky streets. If we were in Pekanbaru, we can also get there by going through Pangkalan Kopan Village and will take about 4 hours time. The area of the forest is around 93.222,20 hectares and is unexplored forest with many kind of reserved trees and animals living in this area. As an example:
Flora:
- Meranti (shorea Sp)
- Punak (Tetrameriota Glabra Mig)
- Perupuk (Solena Permum Javanicum)
- Nipah (Nypa Fructicons)
- Rengas (Gluta Rengas)
- Pandan (Pandanus Sp), and so on

Fauna:
- Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatraensis)
- Harimau Dahan (Neovoles Nebulosa)
- Beruang Madu (Helarctos Malayanus)
- Enggang (Buceros Rhinoceros)
- Monyet (Mocacafa Scicularis)
- Kuntul Putih (Egretta Intermedia)
- Ikan Arwana (Schleropoges Formasus)
- Owa (Hylobutes Moloch)
- Itik Liar (Cairina Scutulata)

The river in this forest stretches out from west to eastward and many birds flock and search foods in this river.

EQUATOR MONUMENT AND HOT WATER SOURCES
The spot of equator line can be found in Dusun Tua, approximately 56 Km away from Pangkalan Kerinci. The spot is indicated by Equator Monument. The area of Equator line was discovered since Deutsche Colonial. There use to be round metal mark as a monument and as a gate to the village and also link up two villages, they are Desa Tua on the east side of the road and Desa Pangkalan Lesung on the right side of the road. The earlier monument was ruined and replaced with the new one. There is also park with nice benches and shelter house around the monument where tourist or people who are dropping by the monument can rest and relax enjoying the view and sucking honey drinks provided by local people.

Just about 7 Km to the west from the monument, there is a hot water well, which has not been properly developed. Nowadays, this potentially tourism object can be reached by vehicle through rocky road. The water it self can work as remedy to heal some skin diseases.

BETUNG VILLAGE
Betung village is 30 Km from Equator Monument and about 58 Km away from Pangkalan Kerinci (the capital of Pelalawan Regency) and is part of Pangkalan Kuras Sub District Area. Betung village is tourism village, which its people of origin are Traditional Petalangan Malays Society.

Many original arts and cultures still can be found and cultivated in this village and these are enjoyable by tourist or traveler who visit this village as many research about arts and culture have been done by several students, professor or doctors from overseas. Among traditional ceremony are; Belian, (traditional healing ceremony), Bedewo, NyanyianPanjang, the performance of Silat Payung, and Menumbai (the ceremony of smearing beehive and harvesting the honey). The other attractive things of the village are plaited materials made of rattan, Pandanus leaves, bamboo, and kopau, which their row materials are still abundant. The custom and tradition forest is still exist here known to be Hutan Kepungan as the home for wild bees to live in and produce honey on Sialang trees.

BELIAN TRADITIONAL HEALING
It is the tradition of Petalangan tribe to cure diseases by calling out spirits or supernatural creatures by entering them to human body and soon the person becomes possessed in order to know what kind of disease it is and what remedy should be given.

This ritual involves Bomoh (shaman) known as Kemantan, bidu who is called Pebayu and one Belian drumbeater. All material used for this ceremony such as miniature of houses, sailing boats, decoration from plaited coconut leaves and other ritual tools and materials should be prepared before healing ritual starts.

When it starts, the Bomoh is sitting by crossing his legs, and his head is covered by long cloth, holding palm blossom, rice kernel, and wearing ringing bracelet on both his arms and legs. When the drum is beaten, Kemantan begin the ritual by spreading rice kernel and singing spells. As soon as the spirit comes into kemantan’s body, he set off standing and waving palm blossom and the ringing bracelet is clanging in his arms and legs.

Pebayu has a duty to pour out rice kernels to kemantan’s body and as translator of the communication between kemantan and the sick person. Should the spirit inside kemantan’s body stop dancing and singing, medicinal treatment can be performed.

This Belian healing ritual is carried out at night. It consists of Ordinary Belian and Great Belian. Ordinary Belian ritual is to cure sick or unwell people of the community, while Great Belian, ritual is to cure one of sick or unwell Kemantan with miniature of houses made by direction of the oldest Kemantan among them.

MENUMBAI
Menumbai is an activity of harvesting honey on beehive tree, which is known as Sialang tree. This tree is tall soaring tree where bees habitually put up their nest. Some materials and tools need to be provided before climbing the tree:

 Bucket = to retain the nest and the honey
 Long rope = to get the bucket up and down
 Tunu/Tunam = (tied coconut fiber on punting pole and burnt to produce fire and smoke
 Semangkat = long ladder to make climbing the tree easier

Some one who was considered older in the society leads the activity of Menumbai and he is called Juragan Tuo (as an expert climber). A number of other climbers called Juragan Mudo assist him. Some of them help Juragan Tuo smearing the beehive; the others collect the bucket loaded up with honey.

This ceremony is customarily held at night, because they believe that supernatural creatures or some spirits live on the tree, and when it comes to doing this activity, usually they deal with some mysterious experiences. Therefore, on every phase of the ceremony, the climbers have to cast some spells or charms as follows:

PHASE I
The spells before climbing the tree by Juragan Mudo

Papat-papat tanah ibu
Mai papat di tana tombang
Nonap-nonap cik dayang tidou
Juragan mudo di pangkal sialang

Tang ketutang losung batu
Batang kompe dodapnyo ome
Batang sialang lindunganku
Dilupo aku takut takome

Nempuing pait ongkou pait
Disombu an ke mato ai
Ja an ditogou juagan nak naek
Katokan anak tupai belai

This ritual is carried out by focusing the mind to the tree then starts climbing until the first branch, which is called Jombang.

PHASE II.
From first branch (Jombang), keep climbing to next branch, which is called Balai Tengah, Juragan Mudo will cast the spell again.

Mengombang kemano obung
Puting beliung samo tonga
Tabik aku dahan jombang
Aku nak lalu ke bolai tonga

Juragan continue climbing up to a higher branch, where the beehive is located. This branch is called Balai Tonga

PHASE III
When he reaches beehive, he begins saying the spells to flatter the bees before collecting honey.

Balai tonga duo eto
Tigo balai talendak bumi
Letakan badan poning kepalo
Menengok cantiknyo balai ini

Masak bua kombang mani
Masak sebutei di jaut unko
Kami ketomu si itam mani
Mengulang daa kemuko

After that, Juragan Mudo wives the nest with Tunam, and begins pronouncing another spells to expel the bees.

Ceocap tobang kelaman
Tobang meulang-ulang kepintu
Menyampaikan ucap ajo Sulaiman
Menyapu bola penunggu pintu

If the bees still stay, he continues saying more spells :

Abak buayo mudik mendudu
Mai singgah ke pelabuhan
Putih kuning bukakan baju
Kami menengok petabuhan

When the bees left away, Juragan Mudo begin collecting honey and put it into the buckets. As the buckets are full, the helper on the ground gets them down by using the long rope and keeps them steady. During this process, he is also saying the spells:

Bo anak tupai bolang
Bolang sampai ja i kakinyo
Selamat ojuang menyoboang
Ojuang sarat seisinyo

He keeps saying from one beehive to another.

The nest closest to a bough is called Head Nest that contains Honey, while on the middle part is called Lambuk (nest abdomen), it contains young bees, and the lowest part is named Stomach Tip (nest tail) that contains beeswax or waste.

When the climber gets down from the tree, again, the spells are said.

Temasu kayu di imbo
Dibuat papan belariak
Tubonsu ja an maibo ibo
Isuk kolam naik balek

Ramo-ramo sikumbang jati
Dua ancak ketigo ancang
Ja an lamo dayangku poi
Duo bulan katigo lah dating
Sobab:
Antu kayu ta ogu-ogu
Dahan Panjang tenanti-nanti
Menanti kau datang

Then Juragan gets down to the ground and Manumbai is over. The honey they harvested will be shared to everyone involved in this ceremony. The leader of the community and his members will also get the share according to the custom rule.

ART AND CULTURE PERFORMANCE

As the former site of a kingdom, Pelalawan Regency is full of arts and cultures activities that is still maintained and performed on certain events, like granting the title to prominent persons or formal installation ceremony as it has been inherited from the earlier Sultans.

Various arts activities grow and maintained among society are:
Arts of literature : Nyanyian Panjang, Pantun, Bidal, and manumbai. Etc.
Arts of Music : gambus, Kompang, Gendang, nafiri, Ketobang, Gambang, etc.
Arts of Dance : Zapin, Joget, Bagendong, Belian, Badewo, Silat Payung, etc.
Arts of Music : Gambus, Kompang, Gendang, Nafiri, ketobang, Gambang. etc.
Arts of Handicraft : Pandanus plaits, kopau leaves, bamboo, woodcraft, embroidery etc

SUPPORTING FACILITIES
Supporting facilities is significantly developing and improving day after day in Pangkalan Kerinci as the capital of Pelalawan Regency. Three Stars Hotel is available here (UNIGRAHA HOTEL) and many other hotels are ready to serve visitors.

1. UNIGRAHA HOTEL
Address : Riau Andalan Pulp And paper Complex
Phone numbers :
Facilities :

2. FANBINARI HOTEL
Address : Jl. Lintas Timur, Pangkalan Kerinci
Phone numbers :
Facilities :

3. DIKARAYA PRATAMA HOTEL
Address : Jl. Lintas Timur, Pangkalan Kerinci
Phone numbers :
Facilities :

4. MERANTI HOTEL
Address : Jl. Lintas Timur, Pangkalan Kerinci
Phone numbers :
Facilities :

5. WISMA INTAN BERSAUDARA
Address : Jl. Dahlia, Pangkalan Kerinci
Phone numbers :
Facilities :

6. WISMA DINDA
Address : Jl. Lintas Timur, Pangkalan Kerinci
Phone numbers :
Facilities :

7. DANGAU HOTEL
Address : Jl. Lintas Timur, Sorek
Phone numbers :
Facilities :

8. SARDELA INN
Address : Jl. Lintas Timur, Sorek
Phone numbers :
Facilities :

Restaurants and café are also available here, they are prepared to spoil your appetites with local and traditional menu:

1. RM YURIKA (Malays cuisine), Jl. Akasia – Pangkalan Kerinci
2. RM. IKAN PATIN RITA (Malay cuisine), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci (Under bridge)
3. RM. MINANG RAYA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
4. RM. SEDERHANA, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
5. RM. LUBUK IDAI (Specialized in grilled fish), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
6. KERINCI CAFÉ (Specialized in deer menu), Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci
7. HARMONY CAFÉ, Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci

There many other interesting places that can serve food and beverages especially when the night comes, various taverns offers many kinds of food, snacks and beverages with a lot of road light gleaming and glowing the street and people passing by.

Some of amusement facilities can be found here, swimming pool for instance or fitness center and children playground:

1. FANBINARI SWIMMING POOL AND PLAYGROUND
Facilities : Swimming pool for adult and teenager, swimming pool for children, fitness center, billiard, sauna, music band stage, children playground, car park, canteen and easy access.

Address : Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci, Gg. Family

2. MUTIARA SWIMMING FOOL
Facilities : One large Adult and teenager Swimming pool, two children swimming pools, small park and shelter, car park (outside area) canteen and easy access.

Address : Jl. Jambu – Pangkalan Kerinci

3. GUFRON BODY MUSCLE (FITNES CENTER)
Address : Jl. Lintas Timur – Pangkalan Kerinci

DATA PENGEMBANGAN SISTIM INFORMASI PROFIL DAERAH
DINAS KEBUDAYAAN,PARIWISATA,PEMUDA DAN OLAHRAGA
TAHUN 2009

KABUPATEN : PELALAWAN

NO JENIS DATA JUMLAH SATUAN
I KEBUDAYAAN
1.Jumlah Suku/Etnis 18 Buah
2.Jumlah Bahasa
18 Buah
3.Jumlah situs Bersejarah
22 Buah
4.Jumlah Sanggar Kesenian
20 Buah
5.Jumlah Tokoh Pemangkuh Adat
20 Buah
6.Jumlah Komoditas Adat
4 Buah

II PARIWISATA
1.Jumlah objek wisata
a.Alam
9 Buah
b.Buatan
4 Buah
c.Sejarah dan Budaya
9 Buah

2.Hotel
a.Hotel Bintang Lima
- Buah
b.Hotel Bintang Empat - Buah
c.Hotel Bintang Tiga 1 Buah
d.Hotel Bintang Dua - Buah
e.Hotel Bintang Satu - Buah
f. Hotel Non Bintang
6 Buah

3.Jumlah Wisatawan

a.Asing/Mancanegara (Average)
2.441 Orang
b.Domestik (Average)
1.597 Orang